Kamis, 08 Agustus 2013

Meja. Kursi. Buku.

Waktu itu relatif, lama-sebentarnya tergantung orang yang mengalaminya. Kalau dia sibuk, waktu terasa cepat. Kalau dia senggang, waktu terasa lama. Di meja ini waktu terasa cepat. Di meja ini aku membaca serangkaian kata oleh banyak orang dengan kisah-kisah yang berbeda. Ada banyak coretan di meja ini. Ada banyak goresan di meja ini. Stipo, pulpen, pensil, yang mewakili setiap perasaan orang. Aku bisa merasakan tekstur meja yang licin bergelombang. Sesekali aku buat suara decitan dengan menggosokkan tanganku di meja. Aku bosan. Aku bosan menanti.

Namun dari panjangnya sebuah meja-kursi perpustakaan, kamu ada disitu. Iya, di seberang kursiku. Di depanku. Aku tak sanggup bertanya kepada perempuan didepanku ini. "Kenapa dia duduk disini ?". Kursiku terasa hangat, atau aku yang sakit ? Udara dingin dari ac tidak membuat semuanya lebih baik. Udaranya hanya membuat canggung semakin menggantung. Aku bisa melihat wajahnya dengan jelas. Matanya tetap tertuju pada buku. Aku bahkan tidak diliriknya sedikitpun. 

Dia sudah selesai membaca bukunya. Matanya melirik padaku yg membuat kami berdua salah tingkah. Aku menelan ludahku sendiri, memberanikan diri untuk bicara dengannya. Aku mencoba berkenalan, dia menjabat tanganku tapi tetap terdiam, tidak memberitahukan siapa namanya. Dia bisu. Gadis cantik ini bisu. Tidak bisa berbicara. Satu-satunya media kita berhubungan adalah dengan melalui buku ini. Buku perpustakaan ini kami coret. Yang seharusnya tidak kami coret, kami coret. Aku tuliskan nama dan nomorku di halaman buku ini, dan aku robek. Dia juga melakukan hal yang sama, nama dan nomornya kini ada padaku. Buku perpus itu pun kini kehilangan 2 halamannya. Nama gadis itu Putri..  

1 komentar: